Powered By Blogger

Sabtu, 26 Maret 2011

Mengapa sih siswaku Lemot banget???

Aku kira...jadi guru adalah hal yang menyenangkan,,,dulu aku sempat berfikir seperti itu. Ternyata, setelah berjalan hampir 6 tahun ini...baru kusadari, oh noooo....siswa-siswaku kebanyakan lemot kayak komputer pentium 1. bayangkan, dalam satu kelas hanya ada maksimal 4 anak yang pentium 4-lah istilahe. wong diajak guyon aja yang nyambung juga cuma 4 anak itu juga. ufff...CPD
Untuk saat ini misalnya, anak kelas 8 materinya lingkaran, udah sampai tahap mencari panjang busur and luas juring. loh, kok baru nyampek situ??? ya iyaaaaalah....wong keliling and luas lingkaran aja mpe berkali-kali eh beribu-ribu kaleeeeeee mereviewnya. mpe mblokek-mblokeklah.
baru kemaren tak sentil luas n keliling lingkaran, eeee...sekarang ada anak yg nyari ke kantor nanyain cara mencari luas lingkaran. Trus tak bilangin gini, "yang diketahui apa, dek?"
si anak blekak-blekuk bilang, "jari-jarinya, bu"
"Lha ya sudah...beres".
"Loh kok beres bu? terus klo udah ada jari-jarinyakan harus mencari diameternya dulu, terus...bla-bla-bla....
what....gubrakkkkk
"Emangnya rumus untuk mencari luas lingkaran apa?"
"Panjang kali lebar, ya to bu?"

thuing-thuing-thuing
gurune semaput reeeek

Kamis, 10 Maret 2011

Rincian Minggu Efektif Semester 2


RINCIAN MINGGU EFEKTIF

Mata Pelajaran                   : MATEMATIKA
Kelas / Semester               : VII / Genap
Tahun Pelajaran                 : 2010 / 2011


1.       Jumlah minggu dalam satu semester
 
No.
Bulan
Jumlah Minggu
Jumlah Minggu tidak Efektif
Jumlah minggu efektif
keterangan
1.
 JANUARI        2011
4
-
4
-
2.
 PEBRUARI      2011
4
-
4
-
3.
 MARET           2011
5
1
4
UAS & PRAKTEK
4.
 APRIL             2011
4
1
3
UAN
5.
 MEI                2011
4
-
4
-
6.
 JUNI               2011
2
2
-
UKK & RAPORT







Jumlah
23
4
19

1.       Banyaknya jam pelajaran efektif
( 23 – 4 ) pekan x 4 Jam Pelajaran    = 19 pekan x 4 Jam Pelajaran
                                                        = 76 Jam Pelajaran                                                                             


                                                                                             Panggul, 5 Januari 2011

Mengetahui                                                                            Guru Mata Pelajaran
Kepala Sekolah





Parmuji, S.Ag                                                                       Anita RH, S.Pd

Kamis, 03 Maret 2011

no words can say

untuk hari ini belum ada posting yang berguna. ni hanya ungkapan hati saja. belum ada kata-kata yang pas untuk di posting. lalu kenapa ini di posting? coz terlanjur ngisi...hehe, just kidding

Senin, 28 Februari 2011

MENGAPA MATEMATIKA BERLABEL “MOMOK”??

Matematika adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam hidup kita. Banyak hal di sekitar kita yang selalu berhubungan dengan matematika. Baik saat kita berbelanja di pasar, mengukur jarak dan waktu, menukar uang, dan lain sebagainya. Setiap orang, siapapun dia, pasti bersentuhan dengan salah satu konsep diatas dalam kesehariannya Karena ilmu ini begitu penting, maka konsep dasar matematika, yang diajarkan kepada anak haruslah benar dan mendasar –kuat mengakar-. Paling tidak, hitungan dasar yang melibatkan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian harus dikuasai dengan sempurna..
Banyak orang mengeluh ketika mempelajari matematika di bangku sekolah. Karena matematika membuat muka pucat, sakit perut, badan gemetaran dan berkeringat dingin. Bahkan ada yang rela tidak masuk sekolah karena hari itu ada pelajaran matematika. Wow, pokoknya matematika dianggap sebagai sesuatu yang menyeramkan –menakutkan-.
Padahal sebenarnya, matematika adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuk dipelajari. Matematika itu sederhana dan bisa dipelajari dengan mudah dan menyenangkan.
Mengapa matematika menjadi momok bagi sebagian besar orang? Sebenarnya masalah terbesar justru terletak pada proses pembelajaran matematika itu sendiri. Banyak proses mendasar yang seharusnya diajarkan dengan gembira dan sederhana, ternyata dilewatkan begitu saja. Selama ini ada anggapan yang dipegang turun-temurun dan masih tetap dianggap sebagai satu-satunya cara mengajar. Seperti yang ditulis Ariesandi Setyono dalam bukunya Mathemagics, Gramedia: Jakarta, 2010 sebagai berikut:
1.      Siswa dianggap sebagai penerima pasif informasi. Mereka datang, duduk manis, dan mendengarkan guru menyampaikan informasi;
2.      Guru adalah sumber pengetahuan. Murid dianggap sebagai kertas kosong yang siap ditulisi;
3.      Matematika adalah suatu pelajaran yang dipelajari dengan hafalan;
4.      Jika siswa berbuat kesalahan cenderung untuk dihukum. Selain itu, hukuman/ancaman juga digunakan untuk menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan;
5.      Nilai bagus identik dengan ‘pintar” dan nilai jelek diidentikkan dengan “bodoh”;
6.      Cara pemecahan soal harus sesuai dengan cara yang diajarkan guru. Jika tidak, siswa dianggap tidak menurut dan jawabannya disalahkan walaupun jawabannya benar.
Sekarang ini jaman sudah berubah, bung! Tapi pada kenyataannya cara-cara mengajar di atas masih banyak digunakan. Apalagi di tingkat pendidikan dasar, yang notabene anak-anaknya masih mudah ditakut-takuti.
Pernahkan anda pikirkan, mengapa anak takut mengangkat tangan sewaktu diberi pertanyaan? Hal itu mulai terjadi sejak anak duduk di bangku sekolah dasar. Berbeda dengan ketika anak duduk di bangku taman kanak-kanak. Ketika ditanya, serentak mereka semua angkat tangan sambil berteriak, “sayaaa”. Tetapi ketika memasuki bangku sekolah dasar, perlahan-lahan sikap yang bagus tadi memudar dan saat mereka duduk di kelas 5 atau 6, sikap untuk berani angkat tangan itu bisa hilang sama sekali.
Karena mereka belajar dari pengalaman, bahwa jika mereka angkat tangan dan memberikan jawaban yang salah, mereka akan ditertawakan teman-temannya, bahkan mungkin akan dikata-katai oleh gurunya atau bahkan malah mendapat hukuman. Bukannya diberi penghargaan karena berani mengungkapkan pendapat.
Situasi belajar yang menegangkan dan menyeramkan, serta tidak adanya toleransi terhadap kesalahan sekecil apapun itulah yang membuat anak-anak takut, atau bahkan sedikit-demi sedikit mulai membenci matematika.
Proses pembelajaran Matematika yang baik, mempunyai tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan keceriaan dan eksplorasi. Jangan membuat mereka stress dengan berbagai macam target yang disertai ancaman dan hukuman. Karena pembelajaran matematika pada usia dini akan sangat berpengaruh terhadap keseluruhan proses mempelajari matematika ditahun-tahun berikutnya. Jika konsep dasarnya kurang kuat atau anak sudah mendapatkan kesan buruk pada perkenalan pertamanya dengan matematika, maka tahap berikutnya akan menjadi masa-masa sulit dan penuh perjuangan.
Proses pembelajaran yang menegangkan, serta hukuman-hukuman yang terlalu sering diberikan jika melakukan kesalahan, atau bahkan kata-kata sindiran dari guru yang terlalu sering mereka dengar. Lambat laun merasuk ke otak si anak. Dan akan menurunkan konsep diri si anak.
Seperti itulah cara otak kita terprogram. Program positif juga terjadi dengan cara yang sama. Setiap orang tidak bisa menolak program dengan kata-kata yang dilontarkan oleh lawan bicaranya. Akan tetapi sebagai orang yang berbicara, kita bisa memilih untuk menyampaikan kata-kata kita dalam bentuk positif. Karena itu, sebagai guru atau orang tua kita wajib untuk menyampaikan kata-kata dalam bentuk positif sehingga membangun konsep diri yang positif anak-anak kita.
Dengan kepercayaan diri yang tinggi, dan rasa “merasa bisa” insyaallah otak anak akan bereaksi positif. Sehingga informasi apapun akan diterima dengan baik. Dan perasaan matematika adalah sulit, lambat laun akan hilang dengan sendirinya. Cara itu memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa.
Hilangkanlah kebiasaan mengintimidasi anak, “Jika kamu materi ini tidak bisa, maka selanjutnya untuk materi yang sulit. Kamu pasti lebih tidak bisa!” dengan muka garang yang menyeramkan.
Kata-kata sulit itu tadi langsung terekam di otak anak. Apalagi jika tiap kali tatap muka bendera  “sulit” terus menerus dikibarkan, maka dengan lambat tapi pasti sugesti negatif tersebut akan membatu pada otak si anak. Sehingga mereka berteriak dengan lantangya “MATEMATIKA ITU SULIT”. Dan gendering perang “ANTI MATEMATIKA” segera bergaung.
Betapa bersalahnya kita, sebagai guru bukannya memberikan sesuatu yang bermanfaat, tetapi malah memberi sugesti negatif yang menurunkan kepercayaan diri si anak.
Jadi, buatlah pembelajaran yang menyenangkan. Tumbuhkan konsep diri yang positif pada diri anak, dan kembangkanlah strategi berhitung yang lebih sederhana. Ingatlah bahwa setiap anak mempunyai potensi kejeniusan. Jika mereka belum mengerti yang kita ajarkan, salah satu kemungkinannya adalah kita menyampaikannya dengan cara yang kurang tepat dan mungkin terlalu rumit bagi si anak.
Menjadi guru adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Berikanlah nilai tambah dalam profesi ini. Nasib bangsa ini terletak di tangan guru. Apa jadinya anak-anak kita, jika kita sebagai guru hanya puas dengan ilmu kita? Jadilah kreatif, carilah ide-ide baru, kembangkanlah pengetahuan yang sudah dimiliki. Jadikan anak didik kita sebagai anak kreatif yang percaya diri, jangan posisikan diri anda selayaknya monster yang siap menerkam kapanpun si anak lengah. Sehingga hanya akan mencetak jiwa-jiwa  yang penakut dan pengecut.


literature tunggal: Ariesandi Setyono, Mathemagics, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (2010)